November 23, 2016

kali ini adalah curhat beneran

masih melulu tentang devil. aku sampai geleng kepala jika merasakan mengenai hal ini. betapa susahnya menghadapi kenyataan jika dihadapkan padanya.
aku sudah merasa menghindarinya, berbicara seperlunya, jika memang ada perlunya saja, menanggapi seperlunya saja, aku sudah mengembalikan apa yang sudah bukan hakku lagi, aku merasa sudah melakukan seluruh tugasku, berusaha untuk selalu mengerjakan dengan sebaik-baiknya, berusaha untuk tidak larut dan terpengaruh dalam pikiran negatif yang ditimbulkannya, dalam sindiran kata-katanya, namun masih saja SEMUA ITU BELUM SELESAI. aku perlu menambahkan capslock karena aku sudah benar-benar malas menghadapinya. semua serba salah saja di matanya.
mulai dari awalnya diungkit-ungkit tentang jasa yang sudah dilakukan, tentang barang yang sudah diberikan, tentang jasa dalam mengikutkan aku dalam mendapatkan penghasilan yang lebih, aku sakit hati denga hal itu. apa aku salah? rasanya seperti menjilat ludah sendiri, kok tidak ikhlas begitu ketika beramal.
lalu tentang perhiasan yang aku pakai, yang malah membuat sindiran tak nyaman didengar. dikiranya mau menyaingi. waduh, kalimat apa pulak itu? aku tak ada seujung rambutpun niatan untuk menyaingi. jika merasa akhirnya tersaingi, bukankah itu berawal dari pikiran sendiri yang tidak senang jika teman lain memakai hal yang sama, memakai barang yang sama. lalu jika aku bilang hal itu adalah jealous, aku salah?
lalu tentang aku mengembalikan inventaris kantor, salah lagi? aku memang sudah berniat mengembalikan inventaris kantor itu, karena tahun depan saat akan pergantian atau pergeseran unit kerja, lambat laun pasti aku kalah posisi, dan pasti harus aku kembalikan. lalu jika barang sudah aku kembalikan, maka itu salah? menyinggung perasaan? gak menyinggung perasaan gimana cobak, jika disindir dengan kata-kata bahwa selama ini sudah diusahakan diberi tambahan penghasilan, tapi balasannya seperti itu? lha kata-kata yang sudah terlanjur aku dengar itu, sudah terlanjur menyakiti hatiku, lalu aku yang salah?
lalu tentang aku yang emang lagi ngomongin soal ujian anak-anak di rumah, lalu langsung saja dituduh nggosip, aku yang salah? siapa sih yang selalu punya pikiran buruk begitu? apa menyehatkan? padahal aku malah sedang membicarakan hal yang jauh darinya, dan siapa yang sudah berpikiran negatif dengan mengatakan aku nggosip? keren sekali sikapnya. hanya karena devil atasan, lalu yang berhak sakit hati dia saja? aku tidak berhak? bagaimana tentang mengelap-lap barang dan jasa yang sudah diberikan itu? mengharap balasan seperti apa? kok aku dituduh jika ingin diperlakukan seperti manusia, tolong untuk memanusiakan orang lain, lalu bagaimana dengan sindiran-sindiran yang setiap hari beterbangan di dalam ruangan hingga membuat ruangan terasa gerah? bagaimana dengan perasaanku? aku masih salah?
lalu tentang si kecil itu. salahkah jika aku merasa dirugikan dengan sikapnya? sikapnya yang sungguh kekanakan karena laporan-laporannya pada devil? setiap kata, setiap tindakan, walau devil tak ada, lalu terdengar olehnya, lalu anginkah yang memberitahukannya? apakah angin  akan selalu membawakan segala yang dilihat dan dirasakannya? sungguh tak masuk akal jika angin akan melaporkan semua yang dilihat dan didengarnya.
kini jika aku sudah tak lagi dekat dengan si kecil, enggan aku berakrab dengan si kecil karena aku tahu segala yang aku katakan, segala yang aku lakukan, akan sampai padanya. aku baru menyadari saat si kecil tiba-tiba saja tanpa sengaja mengakui tentang apa yang sudah dilakukannya. lalu jika aku katakan hal semacam itu menyakitkan aku, aku salah?
lalu tentang kunjungannya pada pp. jika aku pertanyakan untuk apa sampai melakukan hal semacam itu, aku yang salah? aku mencoba untuk melihat kembali diriku sendiri, mungkin memang aku yang salah, mungkin karena aku sudah susah sekali untuk dibina, maka yang bertanggungjawab membinaku adalah pp. aku mencoba untuk melihat dari sisi aku melakukan hal apa yang menurutku masih belum selesai kukerjakan, belum benar yang aku kerjakan, dan yang sudah aku katakan selama ini. tapi bukan harus dengan laporan ke pp juga kan? mengapa harus memarahi orang ketika ada banyak orang, mengapa harus mengadukan orang lain pada orang yang seharusnya berada di luar lingkaran. apa aku sudah demikian salahnya sehingga susah untuk diperbaiki?
mungkin jalan yang harus aku tempuh demikian adanya. aku harus kembali merasakan kepahitan demi kepahitan ini. aku enggan untuk mengelap-lap kesalahan siapapun. aku hanya ingin melanjutkan ke depan saja, melupakan untuk selalu menoleh ke belakang, apalagi pada kesalahan yang telah lampau. masih banyak yang harus aku perhatikan. jika aku selalu saja menanggapi semua ini sebagai salahku, percuma. aku sudah malas untuk berdekatan lagi. aku ingin selalu fokus pada mencari hiburan saja, agar hatiku terhibur dan tidak lagi merasa sendiri.

November 20, 2016

kau takkan terganti

aku mendesah perlahan, memutar mobilku di tikungan menuju kantor. masih sepi. selalu berharap aku masih awal memasuki tempat parkir, masih banyak tempat kosong yang bisa aku pilih, sudut favoritku yang pasti menyenangkan bagiku, dan yang penting, tidak ada yang tahu aku ke kantor membawa mobil-karyawan magang masih dilarang membawa mobil ke kantor.
ah, sudut itu masih kosong, aku meluncur menujunya. ada mobil sport silver berhenti tepat di sebelah aku memarkir mobilku. aku mengatur nafas dan sedikit terkejut memikirkan bagaimana aku harus keluar dari mobil. aku membereskan tas dan bawaanku ketika aku mendengar ketukan pelan di jendela. aku menoleh, dan jantungku seperti mau lepas. mataku mengerjap panik saat kulihat Taka tersenyum melambaikan tangannya ke arahku.
"a a aku mau segera masuk ke ruangan. aku duluan"
"tunggu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
aku segera keluar dari mobil, menghindarinya, dan berusaha mendahuluinya, namun Taka sudah terlebih dulu menahan pergelanganku agar aku berhenti. dengan sangat gugup, tak kuasa menahan panik, dan jantungku yang berpacu karena aku benar-benar ingin segera berlari menjauhinya, aku berdiri menghadapinya. dia mengajakku untuk berjalan berdua menuju ruang kerja.
"kita bisa bicara sambil berjalan. mau kubantu membawakan tasmu?", Taka dengan sangat manis menawariku bantuan. aku menggeleng pasrah.
"aku juga ingin memberitahumu sesuatu, tapi hanya belum sempat saja.", aku mencoba bersikap biasa, mencoba menutupi kepanikanku.
"atau kau ingin kita makan siang di luar saja, agar lebih leluasa bicara?", aku merasa Taka agak berhati-hati dengan hal yang diucapkannya.
"ya, aku usahakan bisa makan siang denganmu.", aku berjanji padanya. aku hanya ingin menjelaskan mengenai ayahku, mengenai statusku, tak lebih. itu yang aku pikirkan untuk kuberitahukan padanya.
setengah hari selanjutnya aku masih meresahkan kalimat yang akan aku ucapkan kepada Taka. aku selalu berusaha menghindarinya, merasa benar-benar tak enak hati karena aku sudah menolak perasaannya. saat ini aku merasa seperti pencuri yang ketahuan. maka itulah aku resah memikirkan kejujuranku yang harus segera kuakui.
saat makan siang di luar kantor.
"kau cerita duluan." dengan sopan Taka mempersilakan aku. aku menggeleng."Kau saja."
"aku sebenarnya ingin minta maaf padamu. aku tahu kamu menghindari aku karena tak enak hati dengan penolakanmu. please, jangan bersikap begitu. aku masih ingin menjadi temanmu." Taka begitu lancar mengucapkan kalimat demi kalimat sambil sesekali mengaduk isi gelasnya.
sedang aku begitu resah memikirkan kata-kata agar tidak membuatnya tersinggung.
"mmm harus kumulai dari mana ya? mengenai ayahku, aku sudah bertemu dengannya. aku hanya memakai fasilitas yang diberikan kepadaku. maaf jika aku baru memberitahumu sekarang. aku hanya tidak ingin kamu salah sangka kepadaku."
"aku tidak masalah dengan hal itu. aku tahu kamu pasti bahagia sekarang. terlihat dari sikapmu kok. aku tahu." tanpa terasa kalimatnya membuatku tertunduk dan malu. mungkin aku sedikit tersipu.
aku melamun, teringat Yonggi. seperti apa kabarnya. apa mungkin dia akan merasa senang jika bertemu denganku lagi, saat keadaanku sudah berubah.
"kau melamun lagi" suara Taka membuyarkan ingatanku tentang Yonggi. aku menunduk. memang aku sedang melamun.
"tolong pegang rahasia ini, Taka. aku tak mau membuat heboh kantor. mengertilah."
"ya. aku janji. kita memang sama-sama memiliki rahasia. aku hanya berharap kau mau berbagi tak hanya rahasiamu denganku." kalimatnya yang terakhir begitu lirih hampir tak kudengar. tapi aku mendengar, dan dalam hati aku mengingkarinya.
aku masih belum bisa mengganti seseorang yang menghuni hatiku. setidaknya untuk saat ini, aku masih menyimpan Yonggi di dalam hatiku. aku masih berharap dia akan kembali padaku.

gak bosan ya, mengumpat si devil?

hadeh, serasa berada di dapur dengan oven terus menyala, sumuk hawane. lagi-lagi devil. sebenarnya apa sih yang dilakukan devil yang membuatku selalu merasa enggan di dalam ruangan.
selalu saja tidak ada yang benar yang aku lakukan. masa sih, hanya beli beras di tempat yang sama, dengan harga yang sama, lalu dibilang beli berasnya aja kok di tempat yang sama, apa bermaksud menyaingi? apalagi jika aku memakai perhiasan, memakai jam tangan yang agak mahal, baju yang terlihat mahal, pasti langsung menjadi bahan omongan, dikira aku ingin menyaingi. haaaa????
aku hanya memakai perhiasan, salah. aku memakai jam tangan yang kebetulan seharga 1 juta lebih, salah. aku memakai tas baru, salah. aku membeli beras di tempat yang sama dengan harga yang sama dengan yang dia beli, salah. aku tidak apel, pasti salah. lha iya dong, tidak apel itu adalah sebuah pelanggaran. tapi jika yang tidak apel adalah si twin, apa juga sebuah pelanggaran? tidak.
apa bedanya? mungkin hanya beda dalam tingkat kesayangan saja.
siapa yang belum ditemukan salahnya oleh devil? tidak ada. mungkin hanya twin saja. hanya karena untuk menutupi tingkat kesayangan yang aku maksud tadi, karena lebih besar kesayangannya.






merindukanmu

kepalaku terasa berat sejak aku berangkat kerja. semalam terasa mimpi yang aku rasakan begitu nyata. aku masih saja mabuk dengan halusinasi bahwa kau ada, dan merindukanku pula. aku merasa mendengar bisikanmu, memanggil namaku. akhirnya pagi tadi dengan segala keresahan yang aku rasakan, kepalaku berdenyut seperti dipukul-pukul palu.
sambil memijit kepalaku seakan mampu meredam hantaman palu di kepalaku, aku berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja. tadi selama di dalam lift pun aku mencoba untuk tidak bereaksi dengan sekitarku. aku ingin segera berlalu begitu saja dan segera duduk di meja kerjaku. sepintas kulirik taka di seberang mejaku. dia sedang sibuk dengan tugasnya. untungnya dia tidak memperhatikanku.
masih tergambar dengan jelas dalam tidurku semalam. aku seperti merasakan keresahan yang luar biasa dari Yonggi. dia seperti merintih dengan duka di hatinya, sambil  memegang dadanya, dia membisikkan namaku. aku bahkan melihat air mata menetes dari sudut matanya. dalam hati aku bisa merasakan kalimatnya, aku merindukanmu, diulang-ulang dia bisikkan ke arahku.
aku terbangun dengan peluh membasahi baju tidurku. aku seperti terlempar dari dunia lain. aku terengah-engah menatap nanar ke sekeliling, seakan mencari dimana Yonggi. berharap dia hanya beringsut ke ruang sebelah atau apa, namun aku sadar aku hanya berhalusinasi. hal yang malah membuat kepalaku semakin berat.
dengan tangan masih sesekali memijit kepala, aku pamit ke toilet. aku merasa tatapan mata taka mengikutiku. dan ternyata memang iya. sebentar kemudian di depan pintu toilet aku mendapati dia menghadang langkahku.
"kau tak apa-apa?"
"tidak. aku hanya kurang tidur semalam, sekarang kepalaku terasa agak berat." aku beringsut berlalu ke dalam toilet. sebenarnya aku benar-benar risi dengan perhatiannya yang menurutku tidak perlu. aku sudah pernah menolaknya, seharusnya dia menghindariku juga, namun yang terjadi malah sebaliknya. dia masih saja menaruh perhatian yang besar terhadapku. hingga aku sendiri merasa tak enak dibuatnya.
di dalam toilet, kuambil ponselku, setelah kubuka, sesaat yang melintas di benakku hanyalah kerinduan untuk mendengar suara yonggi. aku masih membayangkan, kira-kira reaksi yonggi seperti apa jika aku menelponnya, ketika tanganku ternyata tidak sejalan dengan otakku, tiba-tiba saja aku sudah menekan tombol call, dan sudah tersambung dengan yonggi. sedikit tergagap kutempelkan ponsel ke telingaku dan kudengar suara yonggi di seberang,
"hallo."
sapaan singkat yang mampu melipatgandakan deburan jantungku. kembali aku mengumpulkan kekuatan untuk menjawabnya,
"hai." hanya itu yang sementara bisa aku suarakan padanya. setelahnya kudengar kalimatnya lagi,
"im in the midle of practicing. "
"sorry." sahutku.
"its ok. time for break, huh. so what is up?" sepertinya dia pun enggan untuk memutus telepon.
"aku hanya....aku hanya...." kalimatku menggantung karena aku sendiri bingung harus mengatakan apa, karena tak ada kalimat lain selain "aku merindukanmu".
"aku bermaksud ke tempatmu, bisakah kau sms alamatmu?" kalimat yonggi terasa tajam menembus jantungku. aku terbata saat mengiyakan, "i...iya" dan malah tak terasa aku sudah membungkuk seperti dia berada di depanku saja.
"ok. i'll wait. see you then." dia menutup telepon lebih dulu.
tak pernah kubayangkan semudah itu bagiku untuk menghubungi dan mendengar suaranya lagi. ternyata setelah aku bertemu dengan hyung beberapa waktu lalu, mampu mengubah kenyataan dalam hidupku. hal yang semula hanya aku bayangkan, kini aku merasa mulai mendekati kenyataan.
tak terasa aku tersenyum ketika keluar dari toilet, dan terlambat menyadari bahwa taka masih berdiri menungguku. mungkin taka melihat ada binar bersinar di mataku.
"kau kenapa? sebentar tadi kau terlihat sakit, sekarang sudah baikan?"
"o...oh... iya. aku baru saja mendapat kabar baik." sahutku berbohong. jika bohongku kali ini ketahuan, tak apalah. aku merasa lega dan begitu bahagia.

Oktober 27, 2016

in my dream

kembali bayangmu hadir menghias mimpiku. tak ada kata, hanya tatap matamu yang masih setia aku ingat. rasa hangat yang menjalari hatiku. keinginan yang beradu dengan isi pikiranku, bahwa kau tak akan nyata, bersimaharaja benar. namun aku merasakan ada kelegaan dalam hatiku. sungguhpun memang benar kau hanya hidup di dalam mimpiku. dan akupun hanya merasa hidup jika di dalam mimpiku, saat kau ada. kini aku dengan sendiriku, kembali merasakan bahwa pahit itu baru dimulai, tak semua yang tak nyata sekalipun, akan berujung indah.

Mei 30, 2016

Pertemuan itu ternyata mengubah segalanya



Aku tergesa keluar dari convenient store, merasa sudah memasukkan semua barang yang aku butuhkan, kubayar dengan tergesa, dan ingin segera berlalu melawan dingin. Bergaul kembali dengan pemanas di dalam mobil, pulang, lalu kopi. Kehangatan yang selalu aku bayangkan dalam benakku untuk mengusir pikiran-pikiran tak menyenangkan tentang sebuah kenangan manis.
Kumasukkan barang ke jok belakang, kututup pintu mobil, lalu kulihat seseorang mengawasiku. Aku mengingatnya, meski dia sekarang tampak beda, ada kesan cambangnya yang tidak terurus, membuatnya terlihat lebih dewasa dari usia sebenarnya yang masih seumuranku.
“hyung, apa kabar?”, aku menyerah untuk berpura-pura tidak mengenalnya, karena dia sepertinya menelitiku dari jarak dekat. Akan sangat ganjil jika aku berlalu begitu saja, mengingat dia memang teman baikku yang juga pernah sering membantuku.
“bisa kita bicara?”, ajaknya.
“ya, baik. Dimana? Tahiti cafe? Aku tunggu di sana.” Aku masuk ke mobil tanpa mencoba menawarinya tumpangan. Aku tak tahu dia berada di situ sejak kapan dan dengan kendaraan apa. Aku hanya ingin bertanya beberapa hal, memastikan sesuatu tentang seseorang, lalu kembali berlalu.
Di dalam cafe
“aku benr-benar kehilangan kontakmu. Aku juga tak tahu kamu kembali ke kota ini.” Dia mengawali pembicaraan. Sejujurnya aku ingin dia tahu begitu saja tanpa aku menjelaskan kondisiku, tapi akan sangat tak mungkin, membuatnya mengerti kondisiku tanpa penjelasan dariku. Akhirnya aku ceritakan jika aku telah menemukan ayah kandungku, aku sudah bekerja di perusahaannya, meski masih sebagai pegawai magang, dan aku yang sudah menempati rumahku sendiri. Aku hanya merasa kesepian sekali, karen teman kantor tidak boleh mengetahui statusku, sementara teman kuliahku terbatas, membuatku sering hanya diam di rumah.
“asal kamu tahu, Yonggi merindukanmu. Hari-harinya begitu payah. Dia selalu merasa kamu akan kembali padanya. Dia bahkan sudah berani melawan direktur hanya karena dia tidak suka dengan kelakuan anaknya.” Kalimat ini membuatku terpana. Selama ini aku sudah mencoba untuk mengubur dalam-dalam perasaan rindu kepada Yonggi, perasaan bahwa aku tak mungkin memilikinya, hingga harga diriku yang sudah aku pertaruhkan ketika aku menerima uang dari anak direktur untuk memutuskan hubunganku dengan Yonggi. Aku merasa tak pantas lagi mengharapkan kerinduan itu berbalas. Aku tak sanggup menjawab kata-kata hyung.
“dia mencarimu. Sering aku temukan dia sedang mengulang-ulang kembali mv yang kalian buat di Jepang itu, hanya untuk melihatmu lagi. Sepertinya dia sangat tersiksa dengan hilangnya kamu dari kehidupannya.”
Aku menunduk. Kumainkan sendok di dalam cangkirku yang sudah setengah kosong. Aku ingin mengaduk kopi itu, seperti mengaduk perasaanku, agar sebersit rindu itu tak menyerang mataku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak berkaca-kaca, membayangkan Yonggi yang duduk diam melihat mv yang pernah kita buat itu.
“tolong hubungi kembali Yonggi. Ini kontaknya. Kuharap kamu benar-benar mau kembali padanya, dan perbaikilah hubungan kalian. Aku melihat kalian cukup serasi.” Dia menyodorkan ponselnya dimana tertera nomor Yonggi di bawah fotonya. Aku terbata untuk segera mengkopi nomor-nomor itu. Belum tahu akan kuhubungi atau tidak, tapi aku berharap nomor itu akan berdering di ponselku juga.
Kamipun meninggalkan cafe. Kembali ke tujuan masing-masing.
Aku bergegas pulang. Aku tak memikirkan satu tempatpun yang bagiku nyaman untuk aku menumpahkan perasaanku selain kepada bantalku. Jadi akupun mengendarai mobil menuju rumah. Hingga tiba di rumah, aku letakkan begitu saja belanjaanku, langsung menuju kamar, dan kutumpahkan tangisku di bantal. Aku menangis sepuasnya dengan segala ingatan indah bersama Yonggi. Seakan dia pasti akan merasakan perasaanku saat ini.
Entah sudah jam berapa saat aku tersadar. Kamar dan rumahku masih terang benderang. Aku tadi langsung menuju kamar, tanpa melakukan kebiasaan sebelum tidur. Waktu menunjukkan sudah dinihari. Aku berjalan menuju dapur, minum, lalu melangkah ke ruang duduk. Kepalaku berdenyut-denyut sakit, saking lamanya aku menangis hingga tertidur. Aku melamun beberapa saat untuk kemudian kembali ke kamar dan bergelung kembali di bawah selimut.
Esoknya aku bangun kesiangan. Dan hal pertama yang aku sadari adalah menelpon Taka, teman kerja seruangan, teman baik, dan teman yang sudah pernah menyatakn perasaan sukanya padaku, agar aku bisa ijin tidak masuk dengan alasan sakit. Aku memang sakit sekali, kepalaku sakit seperti dihantam palu, dan rasanya sangat berat untuk duduk ataupun berdiri.
Seperti biasa, jika aku mengatakan sesuatu yang agak buruk mengenai kesehatanku, selalu kudengar nada kuatir yang agak berlebihan dari Taka. Mungkin karena dia menyukaiku, jadi aku tak boleh terluka sedikitpun. Dia mengkuatirkan sesuatu yang tak perlu, batinku. Aku berusaha untuk terdengar tidak terlalu menderita, hanya flu dan sakit kepala sehingga harus istirahat, jadi minta tolong untuk disampaikan kepada kepala ruang. Tak lupa aku berjanji padanya untuk pergi ke dokter, agar dia tidak melacak, dan bertandang ke rumahku. Aku masih belum menceritakan tentang diriku yang sebenarnya kepadanya, jadi aku buat seolah-olah tidak mencurigakan.
Aku menghabiskan menit berikutnya menelpon ayahku, yang memastikan kedatangannya sore nanti, dan pengurus rumah yang akan segera dikirim ke rumahku untuk membuatkan aku sarapan. Ah, hanya karena aku menangis semalam, semua orang terdengar sangat repot mengkuatirkan aku. Akhirnya aku berhenti menelpon. Lebih baik menikmati liburku daripada sibuk mendengar kalimat tak perlu yang serba membuatku merasa seperti anak kecil yang tak mampu apa-apa.
Kembali aku bergelung di bawah selimut, kuingat-ingat kembali pertemuanku dengan hyung semalam, bahwa hyung bercerita Yonggi masih mengharapkanku.
Aku mendesah, resah, ingin rasanya aku menelpon dia. Tapi aku bingung mengawali pembicaraan.  Aku terlonjak kaget dari lamunanku ketika bel berbunyi, disusul bruk brak suara pengurus rumah yang dikirim ayahku. Sepertinya dia langsung menuju kamarku. Derap langkahnya terdengar dari dalam selimutku.
“sarapan apa pagi ini, nona?”
“apa saja yang hangat, Bi. Aku ingin kopi.”
“mengapa saat kedaan kurang sehat malah minum kopi?”
“aku merasa lebih enakan jika minum kopi. Tolong jangan lupa kopinya, ya. Please!”
Dia segera berlalu.

Desember 21, 2015

our relationship, day 1

agak susah untuk menulis apa yang sudah terjadi kemarin. tiba-tiba saja yonggi muncul di depan pintuku, tanpa banyak kalimat, dia masuk dan menyodorkan seikat mawar kepadaku, seperti sudah terbiasa bertandang ke tempatku saja.
diawali dengan kalimat-kalimatnya yang menuntut atas menghilangnya aku dari bekerja di tempatnya, lalu hubungan rumit antara aku dan anak direktur yang juga menyukainya, dan juga kenyataan bahwa aku pernah tidur dengannya, akhirnya dia menjelaskan bahwa sebenarnya diapun mencariku, untuk menjelaskan bahwa dia tak menyukai anak direktur, bahkan yang lebih parah adalah dia mengancam akan hengkang dari perusahaan jika masih saja dituntut untuk menggadaikan harga diri dengan menjalin hubungan khusus dengan anaknya.
sudah cukup penjelasannya, hal yang tak aku duga adalah kalimat berikutnya, dia mengatakan sangat merindukan aku. tak cukup hanya dengan kata-kata, dia mendekati dan memelukku, seperti tak akan melepasku lagi. aku awalnya hanya tertegun, tak mampu balik memeluknya, karena bagiku dia terlalu indah untuk menjadi kenyataan, namun setelah aku merasakan bibirnya yang mengecupku, aku mulai merasakan kehadirannya. hal itu berlanjut begitu saja, hingga berakhir di tempat tidurku. beberapa kali dia membisikkan kalimat sakti bahwa dia sangat mencintaiku. aku seperti melayang dalam mimpi yang tak kunjung berakhir, hingga alarmku berteriak sudah waktunya aku bangun dan mengawali hari dengan bekerja. bekerja sebagai pegawai magang di kantor milik ayahku sendiri. sering aku merasa aneh dengan posisiku di kantor. aku harus menaruh hormat yang sangat dalam, bahkan kepada pegawai yang penjilat sekalipun. ayahku sudah memperingatkan, siapa saja orang yang patut diwaspadai dan dicurigai telah berbuat yang merugikan perusahaan. aku hanya diminta oleh ayahku untuk mengikuti setiap geraknya, langkahnya yang diambil mengenai pekerjaannya, hingga akhirnya menentukan keputusan akan posisinya.
aku berlaku seperti biasanya, bangun pagi, membuat sarapan untuk berdua, dan melangkah kembali ke kamar untuk mandi. aku melihat yonggi masih tidur di balik selimut, aku enggan membangunkannya. aku sudah selesai dengan semua persiapanku, melangkah menuju garasi, dan kaget karena mobil yonggi diparkir tepat di depan pintu garasi, praktis menghalangiku untuk mengeluarkan mobilku, kecuali aku harus memindahkan mobil sport merah itu terlebih dulu. aku akhirnya harus berjalan masuk ke rumah, langsung menuju ke kamar, di mana yonggi masih juga meringkuk di bawah selimut. dengan hati-hati kubangunkan dia.
"mobilmu menghalangi pintu garasi, bisakah kau bantu aku memindahkannya? atau mana kuncimu agar aku bisa mengeluarkan mobilku", kataku pelan kepadanya.
dengan masih menguap panjang, dia menyahut, "kunciku di meja ruang depan, kamu bawa mobilku saja, aku pinjam mobilmu karena aku mau membawa beberapa barang ke kantorku, boleh kan?"
seperti tersihir, dan aku harus menyebut demikian, atau apa, jika ada pria tampan setengah telanjang di ranjangmu, mengernyit lalu tersenyum kepadamu? aku kehilangan semua kata-kata gerutuan yang tercipta sejak aku melangkah dari garasi hingga sampai di kamar. dan hanya dengan melihat senyumnya, kalimat yang sudah aku susun menjadi berantakan. aku mengangguk, beringsut dengan canggung mendekatinya, mengecup pipinya sambil membisikkan, "aku berangkat, kupakai mobilmu saja agar aku tidak terlambat."
dengan masih sedikit berdebar, aku melangkah keluar kamar. baru saat ini aku melihatnya setengah telanjang, dan aku seperti baru menyadari, dia begitu tampan, begitu mempesona. bayangan senyumannya masih tampak di mataku hingga aku masuk ke mobilnya, menyalakan mesin lalu melaju di jalanan pagi itu. kurasakan aroma yang berbeda, karena aku mengendarai mobilnya. aku seakan masih mencium aroma tubuhnya, benar-benar membuatku hampir kehilangan akal sehat. aku mengakui, dengan bercinta dengannya semalam, benar-benar telah meruntuhkan pertahananku untuk melupakannya, untuk mencintainya dalam hatiku saja. karena dia begitu nyata, dia ada, dan mengatakan dia mencintai aku. aku sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi sekarang.
kembali pada kenyataan. aku menyusuri jalanan yang biasanya, tapi aku merasakan hal yang berbeda, mungkin karena aku berangkat sepuluh menit lebih lambat, maka aku berkesimpulan bahwa aku akan menghadapi jalanan yang mulai ramai. hal itu tidak terlalu aku permasalahkan, hanya saja baru terlintas di benakku, bagaimana nantinya aku parkir di basement kantor. aku melupakan hal kecil yang menjadi efek besar bagiku. selama ini aku sudah berusaha cukup keras untuk menyembuyikan kenyataan bahwa aku memiliki mobil, aku adalah anak direktur, dan aku harus bersikap seperti pegawai magang yang lainnya.
akhirnya aku sampai di basement kantor, kuparkir seadanya saja, sambil tak lupa sebelum keluar dari mobil, harus ekstra memperhatikan situasi, akhirnya selewat kurang lebih lima menit, aku keluar dari mobil, mencoba bersikap biasa, melangkahkan kakiku agak lebar-lebar agar segera mencapai pintu karyawan.
aku berjalan menyusuri lorong menuju lift, berbasa-basi dengan sekuriti dan beberapa karyawan lain yang melintas bersamaan. setelah mengisi daftar hadir, menunjukkan kartu nama, aku melangkah kembali menuju ruangan, tanganku terpaksa mengaduk isi tas, karena tiba-tiba saja ponselku bergetar. yonggi menelpon,"uhm, ya. aku baru saja mencapai kantor. ada apa?"
hal pertama yang melintas di pikiranku adalah dia pasti butuh sesuatu di dalam rumahku, dan aku dengan sangat terpaksa harus kembali pulang. tapi ternyata tidak, dalam suaranya di telepon, dia sepertinya sedang riang, menanyakan apakah sarapan di meja makan itu untuknya. dan tak lupa dia menanyakan pasword pintu depan. aku menjelaskan nanti aku akan sms paswordnya, lalu kukatakan bahwa itu sarapannya. aku mengatakan beberapa petunjuk mengenai rumahku lagi, saat aku tiba-tiba menyadari ada seseorang yang memperhatikan aku. ternyata adalah taka, sesama pegawai magang yang malah terlebih dulu mendapatkan promosi, dan dia sudah pernah menyatakan perasaan sukanya padaku. aku tiba-tiba saja salah tingkah di depannya. aku benar-benar tidak menyadari apapun yang aku ucapkan baru saja kepada yonggi di telepon. mungkin karena aku masih sangat bahagia.
"hari ini kamu terlihat ceria. aku ikut senang", hanya itu yang taka ucapkan kepadaku, namun sudah bisa dipastikan, aku gugup setengah mati dan tak mampu menjawabnya. apalagi yonggi malah berkata dengan sangat keras kepadaku, "siapa itu?"
aku dengan menahan rasa salah tingkah, senyumku terasa kaget seperti pencuri yang ketahuan, tak mampu mengucapkan kata-kata selain, "maaf, aku sudah sampai di ruang kerjaku. talk to you later." lalu aku segera menutup ponselku.
mungkin saja taka tadi memperhatikan ucapanku, aku masih mengira-ngira dia akan berpikir demikian, dalam langkahku menuju ruang kerjaku. dia terlihat berjalan beberapa langkah mendahuluiku, namun aku yakin tadi dia memperhatikan kalimat yang aku ucapkan saat menjawab ponsel. mengenai sarapanmu, lalu mengenai ya nanti aku sms pasword pintu depan, jangan sentuh isi laciku, tolong bereskan meja makan, uh, semakin aku memikirkannya, semakin yakin aku bahwa taka pasti berpikiran kalau aku membawa seseorang ke rumahku. mungkin satu-satunya hal yang menghiburku adalah aku tadi tidak menyebut kata sayang ataupun kamu, yang menunjuk pada jenis kelamin tertentu. tapi belum tentu juga, aku tadi memanggil yonggi dengan panggilan apa ya, aku tak sanggup lagi menghadapi taka jika aku telah salah menyebut oppa kepada ponsel. pasti tidak bisa diralat lagi kata-kataku. aduh malunya.
ini baru hari pertama sejak proklamasi hubungan antara aku dan yonggi, namun yang terjadi malah rasa kikuk bagiku untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia tinggal di tempatku sekarang. mungkin ini maluku belum seberapa kepada taka, jika dibandingkan dengan aku yang telah membohongi dia mengenai statusku di kantor ini.
semakin aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa taka akan marah padaku mengenai kebohonganku, ternyata malah tanpa sengaja aku mendapati diriku duduk di depannya saat makan siang. aku bersikap seakan kejadian tadi pagi sudah berlalu ratusan tahun. dan aku duduk tenang di depannya, mencoba menikmati hidanganku, padahal ingatanku masih melayang pada tubuh yonggi yang setengah telanjang tadi pagi.